Slide Title 2

Morbi quis tellus eu turpis lacinia pharetra non eget lectus. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Donec.

Slide Title 3

In ornare lacus sit amet est aliquet ac tincidunt tellus semper. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Jumat, 04 April 2014

Prepaid Roaming Camel Originating

Ketika pelanggan sedang roaming di negara lain, maka fungsi Camel akan digunakan sebagai protokol yang mampu membuat operator dari home network  pelanggan melakukan monitoring dan mengontrol setiap panggilan yang dilakukan oleh pelanggan tersebut. Dalam hal ini Camel dapat menyediakan layanan untuk nomor prepaid yang sedang roaming dan juga panggilan untuk special nomor seperti aktivasi voice mail.

Lalu bagaimanakah proses yang terjadi ketika kita sebagai pelanggan indonesia  mengalamiroaming di negara lain. Berikut flow proses secara umum yang dapat kita lihat. Sebagai cntoh Pelanggan prepaid Indonesia berangkat ke negara singapura dan melakukan event nelpon ke pelanggan yang berada di Indonesia.


1. Ketika pelanggan Indonesia telah berada di negara Singapura(Visitor-PLMN), network dari V-PLMN akan mendeteksi adanya nomor prepaid pelanggan tersebut. Hal ini umumnya disebut dengan Location update dimana operasi MAP dari Loc –up  ini telah establish di Map v3. Kemudian layanan O-CSI dan GT pada SCP CAMEL dikirimkan dari HLR ke VLR.

2. Sesampainya di Singapura pelanggan tersebut (dengan CLI dari MSISDN) melakukan call ke nomor tujuan (CdPN) yang berada di Indonesia

3.  Kemudian Visitor MSC ( MSCnya operator Malaysia) melakukan trigger  CAMEL IDP ke arah SCP sehingga pada SCP khususnya pada RAP servicenya terdapat parameter pelanggan tersebut diantaranya:
-service key= <unique value>
- Called Party= < CdPN>
- CLI = <MSISDN>
- OGT Yang terdapat pada TCAP header

4. SCP kemudian menyimpan call context untuk kebutuhan recovery dan meng-assign sebuah nomer referensi pelanggan yang disebut juga dengan TSAN denga kapasitas 164 nomor.

5.  RAP respond terhadap CAMEL IDP di kirimkan ke V-MSC berupa CAMEL CONNECT operation  yang hanya berisi parameter: CdPN=<TSAN>

6. V-MSC akan me-route panggilan tersebut ke arah Gateway MSC operator Indonesia. Sering sekali CLI dan OCdPN yang ada pada message yang dikirimkan dari V-MSC ke G-MSC indonesia hilang  pada saat route dilakukan

7. Lalu MSC melakukan trigger CAP IDP berdasarkan CdPN atau TSAN tersebut. Range TSN akan mengidentifikasi SCP yang mana yang akan dtrigger. INAP IDP akan berisi parameter sebagai berikut:
- Service key=<unique value>
- CdPN =<TSAN>

8. SCP revover Call Context dan mengalohkan call daari Internal CAP IDP ke ACS.

9. Kemudian ACS akan meload CSS Service Library dan Call Plan berdasarkan IDP tersebut.

10. Kemudian SCP melalui CCSnya akan melakukan reservation request ke BE untuk keperluan rating dengan mengirimkan parameter  OGT dan CdPN. Kemudian BE akan memberikan resevasi pulsa dan merespond kembali Reservation Request tersebut sebagai identifikasi telah selesai dilakukan.

11. SCP lalu mengirimkan CAP CONNECT dengan menggunkan Call Context yang disimpan sebelumnya yang berisi parameter: CdPN=<CdPN> dan CLI=<MSISDN>. Request BSCM akan dikirimkan juga dan terbentuk pula physical path antara dua nomor tersebut sehingga sudah bisa salin berkomunikasi.

12. Ketika call telah berakhir baik pemberhentian yang dilakukan pelanggan itu sendiri maupun akibat pulsa yang habis disaat menelepon, SCP akan melakukan debit terhadap BE account dan sisa pulsa jika ada ajkan dibatalkan untuk di reserve.

Selasa, 01 April 2014

Post Call Notification

Nomor pelanggan di Indonesia umumnya dibedakan atas dua yaitu prepaid dan postpaid. Prepaid merupakan nomor yang dapat digunakan ketika kita melakukan pengisian pulsa terlebih dahulu, sedang kan untuk nomor postpaid biaya dikenakan pada waktu tertentu sesuai akumulasi dari penggunaan kita dalam waktu tertentu.

Post call Notification merupakan salah satu fitur berupa informasi tenatang panggilan telepon yang dikirimkan dalam pesan sesaat kita melakukan pemutusan panggilan. Jadi setelah nomor pemanggil selesai melakukan panggilan maka operator akan memberikan informasi dalam bentuk message misalnya yang berisi informasi lama panggilan, sisa pulsa , masa aktif dan lainnya. Dan perlu diingat fitur ini hanya bisa dilakukan untuk nomor prepaid karena informasi yang terkait yang dibutuhkan secara real time hanya terdapat pada nomor prepaid saja.   

Kali ini saya ingin coba menjelaskan proses panggilan telepon dari tahap awal hingga munculnya post call notification:


Gambar diatas merupakan flow proses secara umum dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Seorang pelanggan prepaid Indonesia yang terdaftar di Home PLMN dengan MSISDN: 081257499xxx yang kemudian disebut sebagai CLI (Calling Party Number) melakukan panggilan ke seseorang yang berada di Indonesia jua dengan MSISDN 081389000xxx atau bisa juga nomor tersebut sebagai OCdPN(Originating Called Party Number).

2. Kemudian secara standard laporan HLR O-OSSS  dihasilkan dalam bentuk operasi INAP IDP yang ditrigger dari MSC ke SCP dengan menggunakan parameter-parameter sebagai berikut:
- Service key=<unique value>
-CLI =<MSISDN>
-CdPN=<SAN>
-OCdPN=<called>

Note: O-OSSS (Originating OSSS flag) merupakan sebuah flag yang menandakan adanya panggilan pada OSSS

3. Pada penerima IDP , ACS akan me-load CSS Service Library dan Call Plan yang sesuai dengan parameter didalam IDP

Note: SCP( Service Contol Point) merupakan perangkat IN(intelligent Network) yang berfungsi menghandle layanan voice. ACS merupakan salah satu aplikasi service pada SCP untuk melakukan load , sedangkan CCS merupakan aplikasi pada SCP khusus untuk nomor prepaid .

4. SCP mengirimkan Reservation Request ke BE dengan cara mengirimkan CLI dan nomor tujuan  tersebut yang bertujuan untuk keperluaan rating ( pentarifan).  Sebuah Panggilan akan dikenakan tarif dengan memperhatikan CLI-DN, Product Type, Time of Day, Day of Week dan special promo jika ada. Kemudian ketika BE telah berhasil melakukan Reservasi terebut maka BE akan memberikan informasi ke SCP kembali.

5. SCP mengirmkan operasi INAP CONTINUE. Request BCSM dikirmkan dengan membawa informasi dari nilai durasi panggilan secara teori disesuaikan dengan avalaible balance( Pulsa yang tersedia).

6a. Nomor Tujuan menjawab panggilan dan terbentuklah Jalur physical untuk voice dari Nomor pemanggil langsung ke nomor tujuan dan kemudian kedua nomor bisa saling berkomunikasi. Jika Nomor pemanggil akan kehabisan pulsa saat panggilan sedang berlangsung maka SCP akan memberikan warning tone sebelum pemutusan sambungan secara total dilakukan oleh SCP.

6b. Jika Nomor Panggilan melakukan called ke spesifik nomor IVR(Interactive Voice Response) Service sebagai contoh melakukan isi ulang kartu , maka SCP akan memberikan respond ke SRF dengan operasi INAP PA(Play Announcement)  dan/atau PACUI(Prompt and Collect) ke beberapa alamat SRF (Specialised Resource Function)berdasarkan operasi INAP CONTINUE tentuya.

7. Ketka panggilan telah berakhir baik pemutusan yang dilakukan dari kedua nomor tersebut maupun pemutusan paksa dari SCP akibat pulsa pemanggil telah habis,maka SCP melakukan debit terhadap BE account dan sisa pulsa akan dihilangkan reservasinya.

8. Pada akhir panggilan , sebuah Post Call Notification dikirimkan ke nomor pemanggil melalui SMSc  IP Interface yang berisi informasi lama panggilan, sisa pulsa,dan  masa aktif. Kini SCP memiliki fitur dalam menyimpan teks contentnya sehingga hanya perlu pemetaan PPID dari sisi ES (perangkat billing/amdocs) terhadap kontent message yang akan dikirimkan ke pelanggan via SMSc. PPID tersebut berisi informasi berupa lama panggilan, sisa pulsa , pulsa yang terpakai dan masa aktif. 

Jumat, 28 Maret 2014

Sistem Komunikasi dengan VSAT plus II

VSAT( Very Small Aperture Terminal) merupakan suatu perangkat terminal yang memiliki diameter kecil  sekitar 0,5-3,5 meter. Penerapan VSAT bisa kita lihat secara kasat mata di mesin-mesin ATM dimana menggunakan terminal kecil yang langsung terhubung dengan Satelit luar angkasa. Satelit tersebut dapat berfungsi sebagai repeater dimana sinyal lemah yang diterima satelit akan diberi penguatan dan dikembalikan ke stasiun penerima. Penggunaan komunikasi satelit juga digunakan untuk menjangkau daearah yang minim perangkat telekomunikasi maupun memiliki  daerah geografis yang sulit dijangkau.

Satelit Palapa C merupakan salah satu jenis satelit yang digunakan di Indonesia, diamana memiliki cakupan Asean Beam, Asia Beam, Ku-Band beam yang bisa silihat pada gambar dibawah.


 Satelit palapa C merupakan satelit yang tergolong GEO satelit yang memiliki arti orbitnya berada di daerah khatulistiwa(35.378 km) dan memiliki karakteristik delay transmisi perhop-nya lebih kurang 0,25 detik. Delay transmisi tersebut merupakan parameter penting dalam menentukan kinerja link komunikasi.

Regulasi terkait orbit dan frekuensi satelit, secara nternasional dilakukan oleh ITU-R. Dikarenakan setiap negara memiliki hak untuk mengklaim wilayah udara(space)diatasnya, maka harus dilakukan koordinasi terkait orbit dan frekuensi agar tidak terjadi overlapping dan interferensi. Secara Service kita mengenal 3 tipe layanan satelit yaitu:

1. FSS (Fixed Satellite Services), sebagai contoh digunakan untuk komunikasi antar satelit dengan menggunakan band :
C-band(Up: 5.85-7.075GHz dan Dwn: 3.4-4.2 GHz), X-band(Up: 7.90-8.40 GHz dan Dwn: 7.25-7.75 GHz), Ku-band(Up: 13.75-14.8 GHz dan Dwn: 10.7-11.7 GHz) atau Ka-band(Up: 28.0-30.0 GHz dan Dwn: 17.7-19.7 GHz).

2.BSS (Broadcasting Satellite Services) , sebagai contoh digunakan untuk komunikasi transmisi direct dari satelit ke stasiun broadcast local TV program misalnya( DIstribusi Point to Multipoint) dengan menggunakan band:
S-band(Up: 2.65-2.69 GHz dan Dwn: 2.5-2.54 GHz), Ku-band(Up: 17.7-18.2 GHz dan Dwn: 11.2-12.2 GHz), Ka-band(Up: 24.75-25.25 GHz dan Dwn: 21.4-22.0 GHz)

3. MSS(Mobile Satellite Services), sebagai contoh digunakan untuk komunikasi dari satelit ke pengguna mobile station dengan menggunakan band:
L-ban(Up: 1.626 -1.66 GHz dan Dwn: 1.525 -1.56 GHz),  L/S-band(Up: 1.61- 1.626 GHz dan Dwn: 2.483-2.5 GHz), S-band (Up: 2.67-2.69 GHz dan Dwn: 2.5-2.52 GHz)

Jika dilihat dari segi tenik Multiplexing  FDMA yang digunakan satelit Palapa adalah SCPC (Single Channel Per Carrier). SCPSC tersebut dapat debedakan menjadi dua terminologi yaitu:

1. SCPC/PAMA
Sinyal yang secara terus menerus baik yang dipakai maupun tidak akan selalu menempati transponder satelit yang telah ditentukan dan tidak diperluakan sebuah master control

2.SCPC/DAMA
sinyal hanya akan muncul jika transponder satelit digunakan dan dalam hal ini dibutuhkan master control.


VSAT PLUS II merupakan salah satu jenis stasiun bumi yang menggunakan burst (aliran data yang ditransmisikan secara bersama-sama dari stasiun bumi) dengan adanya skema pengaturan yang disebut dengan frame. Salah satu kelebihan VSAT Plus II adalah kemampuannya dalam mendukung frekuensi hopping dalam bandwith 36 MHz menjadi 32 carrier. Secara detail frame dapat dilihat pada gambar dibawah:


Terminal VSAT Plus II di frame terakhir dalam superframe digunakan sebagai sinyal loopback test yang berfungsi untuk mendeteksi terminal yan sedang dalam keadaan standby.


Secara umum perangkat VSAT plus II memiliki 3 perangkat utama yaitu: TDMA modem, Voice card, Data card yang dapat dilihat pada ambar dibawah ini:


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam VSAT yang sering terjadi dilapangan diantaranya:

- Jika berada di tempatyang luas lebih baik menggunakan antena minimal berdiameter 3,2 meter dengan Radio Frekunsi sebesar 5 watt
-Gunakan kabel koaxial yang memiliki rugi-rugi rendah
- Kabel Koaxial Interfacility Link lebih baik dipakai sesuai dengan kebutuhan
- Lakukan pengecekan terhadap konektor, untuk mengindari rugi-rugi akibat sambungan yang tidak baik
- Baiknya ada musim hujan dlakukan pemeriksaan terhadap feedhom antena yang mungikin terendam air hujan sehingga menyebabkan koneksi terputus.

Operator Join With Blackberry(RIM)

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Indonesia kini menjadi salah satu negara yang memiliki jumlah pengguna blackberry terbanyak tentunya dengan dukungan dari berbagai operator Indonesia dalam implementasinya . Blackberry OS merupakan  hasil produk dari RIM (Research In Motion), sebuah perusahaan telco di Kanada yang menawarkan layanan BBM instant messaging. Jadi ketika operator Indonesia melakukan kerjasama dengan RIM maka secara network, operator Indonesia tersebut haruslah terhubung dengan server RIM secara langung baik ada yang di Kanada atau bisa juga melalui negara Singapura.


Gambar diatas merupakan gambaran highlevel dari topology network dari BB OS. Penjelasannya sebagai berikut:

Disisi akses seperti yang kita ketahui terdiri dari BTS/node b dan BSC /RNC.  Ketika pelanggan BB melakukan akses, maka data blackberry tersebut akan diteruskan kearah SGSN yang terintegrasi dengan HLR dalam hal mengecek profile pelanggan apakah pengguna blackberry atau tidak. Jika ya maka akan diberikan APN blackberry.net yang secara implisit berupa alamat IP. HLR juga terhubung dengan SOA terkait dengan CM parameter misalkan SRVTPnya:PN/S/L/C/EP dan BBEPAR:Yes, dsb.

Setelah dari SGSN maka traffic akan diarahkan ke GGSN dan kemudian di teruskan ke CSG. Di CSG logic dari traffic blackberry hanya akan di by pass oleh CSG dalam artian tidak ada pengecekan kearah billing dan akan langsung diteruskan ke BG hingga sampai pada RIM server.
Jika pelanggan dari awal hanya melakukan akses internet saja,  CSG akan melakukan proses logical kearah billing misalkan terkait dengan pulsa yang dimiliki, paket yang dimiliki , dsb. Dan dalam hal ini subscriber diberikan APN local dari operator bukannya APN blackberry. Sehingga aksesnya hanya akan diarahkan internet cloud dari operator yang bersangkutan bukan diarahkan ke RIM.

Nah, kembali lagi untuk proses blakberry, setelah sampai di RIM server, maka dilakukan provisioning terhadap SRVTP nya dengan catatatn RIM server akan memberikan xml code atau API terhadap masing-masing SRV. Dan kini pelanggan pun telah bisa melakukan BB messages.

To be continue…

Senin, 10 Maret 2014

Service Provider Name (SPN)

Coba perhatikan layar homescreen pada handphone Anda, maka akan terlihat tulisan kecil bertuliskan nama  operator yang anda gunakan sebagai contoh bertuliskan TELKOMSEL, INDOSAT, XL, 3, dsb. Bagaimana proses munculnya tulisan tersebut? 

Nama bekend di ranah telekomunikasi, tulisan tersebut dinamakan sebagai SPN (Service Provider Number). SPN ini umumnya ditanamkan dalam SIMcard yang terintegrasi dengan  OTA. Lalu apakah itu OTA? OTA( Over The Air) merupakan sebuah standard transmisi wireless yang mampu mendukung aplikasi berbasis informasi sebagai salah satu provider yang  telah mensupport OTA adalah SmartTrust. Jadi ketika SIMcard tersebut diaktifkan maka secara OTA dengan memanfaatkan informasi network dari sisi MNC dan MCC saja, SPN tersebut akan bisa muncul dengan nama provider yang tentunya mengglobal.

Tetapi secara bisnis bagaimanakah cara mengubah pelanggan existing yang sudah memiliki SIMCard dengan SPN global tersebut mampu diubah oleh operator yang bersangkutan menjadi SPN khusus, misalkan menampilkan sebuah tulisan yang bukan lagi nama operator melainkan nama produk tertentu misalnya,atau nama daerah dimana pelanggan berada, dsb. Berikut adalah salah satu alternatif yang dapat dilakukan.


Istilah dari Probelematika diatas dapat dikatakan melakukan PUSH SPN. Berikut arsitekturnya:


Misalkan SPN awal adalah INDO yang menyatakan nama operator yang sudah mengglobal akan diubah menjadi GOLD SUBS yang menyatakan pelanggan tersebut digolongkan sebagai pelanggan special dimana misalkan pelanggan tersebut memiliki jumlah penggunaan pulsa yang diatas rata-rata dalam sebulan sehingga ia berhak mendapatkan diskon di beberapa tempat tertentu dengan cara menunjukkan SPN tersebut dan masih banyak lagi penggunaannya secara keinginan bisnis.

Data warehouse adalah sebuah database yang menampung dan menyimpan data-data pelanggan baik dari ARPU, usage, identitas,dsb. Dari data tersebut maka pelanggan tersebut dapat dibagi dalam beberapa kategori . Misal data usage pelanggan tersebut di load sistem data warehouse dan menunjukkan hasil bahwa pelanggan tersebut telah dikategorikan sebagai pelanggan GOLD maka data dengan data MSISDN pelanggan tersebut beserta informasi IMSI bila diperlukan , akan dikirimkan ke DP  (Delivery Platform) sebuah produk dari SmartTrust . Kemudian DP tersebut akan mengubah inputan file menjadi file FCD dan SLD


Data inputan dari Data Warehouse tersebut  umumnya berbentuk text file dengan informasi MSISDN dan IMSI yang dipisah dengan tanda koma. Kemudian file WO(work order) yang berisi informasi bagaimana  cara mengeksekusi WO, membentuk FCD dan SLD secara bersamaan serta  informasi tanggal, validity, priority , dsb akan dibuat. Selanjutnya dari WO tersebut akan dijadikan dalam  dua file oleh DP yaitu FCD dan SLD. 

File pertama yaitu FCD merupakan file yang akan berisi informasi apa yang harus dilakukan sistem DP, menentukan status messages dan file update. Sedangkan file kedua yaitu SLD akan berisi informasi berupa penentuan SIM files apa aja yang akan bisa mendapatkan perubahan, serta informasi MSISDN dan IMSI tersebut. Dan pada akhirnya DP akan melakukan PUSH SPN melalui OTA dan kini di handset pelanggan telah mengalam perubahan SPN. 

Kamis, 06 Maret 2014

Profile Pelanggan di HLR

Profiling pelanggan dilakukan oleh operator telekomunikasi untuk membedakan QoS yang akan diberikan kepada pelanggan. Umumnya ketika pelanggan pertama kali terdaftar akan diberikan profile default , namun ketika pelanggan tersebut membeli paket tertentu, maka profilenya akan berubah agar mendapatkan kualitas yang dimiliki paket tersebut. Misalkan untuk profile default kecepatan download up to 2 Mbps , maka ketika pelanggan membeli paket internet cepat, maka kecepatan downloadnya berubah menjadi up to  5 Mbps, maka dari sini dapat dikatakan profile dari subscriber telah berubah. Berikut contoh data umum profile yang pelanggan yang ada di HLR:


Data diatas merupakan contoh yang digunakan untuk HLR ericsson, berikut penjelasannya:

1. Profile: Hanya bentuk penamaan agar mudah diidentifikasi pelanggan tersebut memiliki kriteria QoS seperti apa dan biasanya profile diartikan sebagai sebuah paket yang berisi kumpulan dari APN . Umumnya profile 1 digunakan sebagai default profile.
2. PDPID : Merupakan singkatan Packet Data Protocol context Identifier yang memiliki nilai range 1 hingga 10.
3. APN Name:  Access Point Name , berupa penamaan akses jaringan internet yang digunakan operator yang memiliki kumpulan IP pool tersendiri.
4. QOSID : berupa identifikasi QoS akses pelanggan
5. THP: Traffic Handling Priority, sebuah prioritas dalam hal akses jaringan. Priority ini diurut dari 1 hingga 3 dan priority=1 adalah priority tertinggi. Fungsi priority ini akan berjalan jika pada jaringan terjadi trafik yang cukup tinggi , maka pelanggan dengan priority 1 akan mendapatkan layanan yang terbaik.
Berikut salah satu gambaran pengimplementasiannya:


Gambar diatas berupa grafik time terhadap kapasitas. Ketiga pelanggan berada dalam cell yang sama dan melakukan akses download file yang sama dalam waktu yang bersamaan pula, dan pada saat itu terjadi trafik yang tinggi, sehingga pelanggan dengan THP-1 akan lebih cepat menyelesaikan download dengan ketentuan operator yang bersangkutan membuat rule bahwa THP=1 merupakan priority tertinggi. 

 6. ARP:  Allocation retention Priority, dengan priority 1 yang tertinggi dan yang terendah adalah priority 3. Fungsi prioritas ini akan berjalan ketika jaringan sudah crowded dan jika ada beberapa pelanggan dengan priority 1 yang ingin menggunakan network yang ada maka pelanggan tersebut  akan mampu melakukan koneksi ke jaringan tersebut.
7. MBRD: Maximum Bit Rate for Downlink, berupa kecepatan akses pelanggan ketika kondisi download yang dinyatakan dalam satuan bps
8. MBRU: Maximum Bit Rate for Uplink, berupa kecepatan akses pelanggan ketika kondisi upload yang dinyatakan dalam satuan bps.


Seperti gambar diatas, parameter MBR dalam iplementasinya akan membedakan priority pelanggan apakah merupakan golongan gold, silver, atau bronze.


Gambar diatas menunjukkan bagaimana flow proses pelanggan mendapatkan profile HLR. Misalkan pelanggan secara default dinyatakan sebagai profile -1 dengan kriteria QoS tertentu. Tak lama kemudian pelanggan mendaftar sebuah paket internet cepat , dimana dalam paket tersebut tertananam sebagai profile-3 seperti pada gambar tabel sebelumnya.

A. pelanggan melakukan pendaftaran melalui akses UMB contoh: *177*100# untuk mendaftar paket internet cepat.

B. Kemudian request tersebut akan diteruskan ke SOA dan verifikasi awal adalah apakah pelanggan mempunyai cukup pulsa untuk membeli paket tersebut. Maka untuk melakukan pengecekan dilakukan ke arah RPL


C. Jika pulsa mencukupi maka akan diarahkan ke SAPC untuk mengetahui QoS yang akan diberikan terhadap pelanggan yang membeli paket tersebut dengan skema provisioning.

D. Kemudian QoS hasil dari SAPC dicek kembali disisi Qos HLR dengan mengirimkan command trigger ke sisi HLR beserta HSDPA parameternya juga sehingga finalnya HLR akan menentukan profile-3 sebagai profile pelanggan saat ini dengan kecepatan downlink =3.6 Mbps dan uplink= 512 Kbps.

Untuk Poin C dan D ada hal yang perlu diperhatikan:
apabila dalam penentuan kecepatan berbeda antara HLR dan SAPC untuk paket yang sama maka prinsip keran seperti gambar berikut akan berlaku:


1. Jika kecepatan uplink yang ditentukan SAPC lebih besar dari HLR maka yang akan diterapkan adalah uplink dari SAPC, misal QoS untuk pelanggan dinyatakan SAPC memiliki kecepatan uplink=up to 2 Mbps sedangkan pada QoS HLR speed uplink= up to 512 Mbps , maka yang diterapkan QoS SAPC =up to 2 Mbps walaupun ini dinyatakan oleh HLR lebih besar dari kemampuan kecepatan yang di berikannya.
Dapat disimpulkan dengan data uplink static yang terdapat d HLR tidak akan mempengaruhi nilai uplink SAPC.
2.  Namun, Jika kecepatan downlink yang ditentukan SAPC lebih besar dari HLR maka, kecepatan HLRlah yang  akan digunakan.

kembali lagi kelanjutan flow proses :

E. Setelah sudah diset QoS disisi HLR dan SAPC , maka SOA akan mengattach AO paket tersebut sehingga pelanggan pun bisa menikmati layanan paket dengan QoS yang telah ditentukan.

F. Sebagai pemberitahuan paket telah sukses dilakukan SOA akan mengirimkan content Message ke arah MMX.

G. MMX akan bertugas mengirimkan notifikasi tersebut ke pelanggan melalui network tentunya. Dan kini pelanggan telah resmi dinyatakan sebagai profile-3 tersebut dan bisa menikmat layanan dari paket tersebut.

SAPC (Ericsson's PCRF)

Operator telekomunikasi kini cenderung hanya bertindak sebagai “dumb pipe”, dalam artian hanya menyediakan jalur atau pipa transmisi untuk penyedia berbagai jenis layanan internet yang kini sudah masuk ke ranah mobile seperti yahoo, google, whatsup, line, facebook,dsb. Jika operator tertentu tidak memberikan jalur terhadap layanan kepada pelanggannya, maka akan besar kemungkinan pelanggan tersebut akan beralih terhadap operator lain, namun di lain sisi ,bagi provider penyedia layanan tentunya sangat diuntungkan dengan modal demand  saja dari pelanggan yang ingin mengakses layanannya , content provider tersebut dapat meraih revenue yang mungkin tergolon tinggi.

Dalam meraih revenue dan mencoba keluar dari zona dumb pipe , Operator telekomunikasi kini mulai bertransformasi menjadi smart pipe dan PCRF adalah salah satu solusinya.
PCRF merupakan singkatan dari Policy and Charging Rules Function , yang akan memebrikan kemampuan dalam management pelanggan sebagi contoh dalam hal membuat differensiasi, prioritas, management bit rate, dsb. Dari kemampuan PCRF tersebut , maka operator telekomunikasi akan mampu menciptakan berbagai  jenis produk dengan melakukan pengaturan terhadap jalur transmisi pelanggan ketika akan mengakses layanan yang mereka inginkan.

SAPC merupakan salah satu jenis produk PCRF dari Ericsson yang kini banyak diterapkan di operator. SAPC sendiri singkatan dari Service Aware Policy Controller yang memiliki cara kerja dalam memanage customer experince yang terintegrasi dengan perangkat lainnya dan berikut penjelasan secara singkat:



Keterangan:
Gambar diatas merupakan salah satu jenis proses SAPC yang terintegrasi dengan arsitektur operator dengan fungsi mengontrol Dynamic QoS

1. Data subscriber (profiling subscriber termasuk QoS) yang ada pada HLR di masukkan pada SGSN dengan skema GPRS attach.
2. Ketika user megaktifkan PDP context request maka user akan mengirimkan QoS Request ke arah SGSN
3. SGSN kemudian meneruskan PDP context request tersebut ke arah GGSN terlebih dahulu
4.  Lalu GGSN akan melakukan negosisasi  terhadap  SAPC untuk menentukan nilai QoS yang akan diberikan kepada pelanggan
5. Hasil negosiasi antara SAPC dengan GGSN akan di informasikan kembali kepada SGSN yang dinyatakan dalam pengirman PDP context response
6. SGSN  kemudian  melakukan evaluasi kembali terhadap hasil Qos yang diterima dari hasil PCRF dan GGSN . Jika hasil nilai QoS yang akan diberikan tidak melebihi kapasitas dari QoS SGSN maka hasil negosiasi yang akan diberikan, namun jika terjadi sebaliknya, maka  tetap QoS pada SGSN yang tetap akan dipakai .
Kemudian apapun hasilnya SGSN akan merequest RAB yang baru dengan menggunakan RAB Assignment Request  termasuk didalamnya nilai QoS yang akan diberikankepada pelanggan melalui RNC
7.RNC kemudian memetakan infromasi QoS dari SGSN kedalam internal profil QoS RAN
8. Ketika hasil pemetaan telah selesai, maka RAN akan menginformasikannya dalam bentuk RAB Assignment Response ke arah SGSN
9. SGSN lalu mengaktifkan PDP context accept
10. PDP context akhirnya dibentuk dan dibuat sesuai hasil QoS tersebut.

Beberapa aplikasi PCRF/SAPC dalam mengontrol QoS pelanggan diantaranya sebagai berikut:
1.  Usage atau penggunaan layanan pelanggan bisa dibedakan berdasarkan volume ataupun waktu , dan bisa diatur terkait periode akumulasi penggunaaannya beserta hasil reporting data yang cukup baik
2.  Pengaturan terhadap bandwith pelanggan.
3.  Melakukan proritas pelanggan dalam mendapatkan akses radio
4. Bisa pula dilakukan jalur yang dedicated terhadap pelanggan dengan nilai guaranted bit rate yang berbeda-beda pula.
5. Bisa digunakan untuk parental control dalam hal akses terhadap content layanan 

Jumat, 28 Februari 2014

Konsep Pentarifan Operator Telekomunikasi

Initial Recharge (IR) merupakan tahapan awal yang kita lakukan ketika pertama kali ingin mengaktifkan nomer dari kartu operator tertentu , dimana prosesnya umumnya melalui menginput data-data kita seperti nama, no KTP , tanggal lahir dan sebagainya. Nomer tersebut akan terdaftar di HLR dan VLR dimana kita berada (HLR).

Pada saat ini nomer-nomer yang di jual di counter-counter pulsa misalnya, kini sudah mulai di manage sebaik mungkin dalam artian nomer-nomer tersebut memiliki kategori POC atau wilayah area tertentu.
Jadi dalam penyebarannya , nomer –nomer tersebut telah diklasifikasikan hanya boleh dijual di POC /wilayah area masing-masing. Misal sekumpulan nomer A hanya akan dijual di area Jakarta, sedangkan sekumpulan nomer B hanya akan dijual di daerah Bandung. Maka Retail outlet yang ada di jakarta tidak akan boleh menjual kartu yang POCnya Bandung, agar terjadi kompetisi yang sehat dalam penjualan kartu sesama retail outlet. Aturan ini umumnya di manage oleh bidang channel di perusahaan operator tertentu.


Secara tariff  yang akan dikenakan pada pelanggan pun mungkin akan berbeda misalkan di kota jakarta yang padat penduduknya umumnya akan dikenakan biaya telepon yang lebih mahal permenitnya dbandingkan nomer yang ada di POC yang sedikit penduduknya. Jadi sekarang ,operator terkadang menyesuaikan tariff sesuai dengan daerahnya untuk promo-promo tertentu misalnya, walaupun terkadang metode tariff general masih tetap dilakukan.


Berikut Ada 2 jenis tariff yang kemudian berlaku pada pelanggan  jika dia telah mengaktifkan nomernya tersebut yaitu:
1. HOME POC



Pelanggan akan selalu dikenakan tariff di daerah mana ia berasal. Misalkan pelanggan melakukan IR(initial Recharge) di Jakarta , maka ketika pelanggan tersebut pergi ke bandung dan melakukan voice call maka tariff yang berlaku padanya adalah tariff Jakarta : Rp X/menit

2.Physical POC


Pelanggan akan dikenakan tariff sesuai keberadaanya. Contohnya , pelanggan tertentu melakukan IR di jakarta, kemudian pelanggan tersebut  pergi berjalan ke Bandung maka pada saat  melakukan voice call misalnya , pelanggan tersebut akan dikenakan tariff Bandung, dan ketika sedang berada di Purwokerto maka tariff yang berlaku adalah tariff Purwokerto. Apabila ketiga wilayah tersebut termasuk dalam satu POC yang sama, maka tariffnya akan seragam. Namun apabila ketiga daerah tersebut berbeda POC maka tariffnya akan berbeda-beda dengan catatan ketiga jenis POC tersebut punya nilai tariff yang berbeda pula.

Mari kita coba mengenal prioritas rating yang umumnya terdapat pada operator telekomunikasi:


1. Additional Offer(AO)
AO dalam kesehariannya kita kenal sebagai paket, dimana ketika kita membeli sebuah paket tetentu dan telah berlaku pada pelanggan, maka tariff yang dikenakan akan sesuai dengan tariff paket tersebut
2. Price Plan
Bisa dikatakan price plan merupakan tariff yang dikenakan pada pelanggan yang bersifat dasar, dalam artian ketika pelanggan membeli sebuah kartu perdana  lalu mengaktifkannya, maka pada kartu tersebut tertanam tariff dasar yang berlaku padanya.
3. Market Level
Sebuah mekanisme rating yang memiliki kekhususan misalkan untuk mengenakan tariff pelanggan yang membeli campaign tertentu , atau market level ini bisa diset sebagai alternatif tariff yang berlaku ketika sistem pentarifan pada pelanggan mengalami kegagalan dikarenakan sistem billing eror.

Dari ketiga jenis rating tersebut, AO lah yang memiiki prioritas paling tinggi. Ketika pelanggan punya paket tertentu maka tariffnya adalah sesuai dengan paket tersebut . Jika pelanggan punya lebih dari satu paket, maka ada juga prioritas diantara AO, jadi akan ditentukan AO mana yang akan di consume pelanggan saat dia melakukan Voice, sms, serta koneksi data. Kemudian apabila paketnya telah habis maka pelanggan dikenakan tariff price plan, dan in case ada error pada sisitem pentarifan maka pelanggan tersebut dikategaorikan menggunakan market level yang umumnya memiliki tariff flat dengan harga tariff yang tentunya lebih murah dibandingkan dengan tariff price plan.

Kamis, 27 Februari 2014

USSD Menu Browser (UMB)

USSD merupakan singkatan dari Unstructured Service Suplementary Data. Lalu apa itu USSD? Jika anda pelanggan dari sebuah operator anda akan sering menggunkannya, sebagai contoh anda pengguna Telkomsel sering akses info ke *888# untuk mengecek pulsa, *999# untuk membeli paket-paket dan sebagainya. Jika anda pengguna XL menggunakan akses *123# dan sering pula kode akses ini selain disebut akses Channel via USSD disebut pula akses UMB.


Jadi USSD itu sendiri sebuah teknologi GSM yang sering digunakan sebagai  akses layanan tambahan.
Cara aksesnya USSD harus diawali dengan tanda bintang( *) ataupun tanda pagar(#) , kemudian diikuti serangkain angka lalu diakhiri dengan bintang( *) ataupun tanda pagar(#). Tapi umumnya operator Indonesia menggunakan tanda bintang sebagai awalan dan tanda pagar sebagai akhirannya. Nomor yang ada diantara kedua tanda tersebut adalah sebuah nomor telepon tertentu, tetapi karena menggunakan tanda tersebut maka panggilan terhadap nomer tersebut akan ditandai sebagai panggilan kea rah USSD. Berbeda dengan SMS, dengan USSD kita seolah-olah melakukan akses secara real time sama halnya sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. USSD Menu Browser (UMB) inilah yang merupakan aplikasi dari USSD yang menyediakan management menu yang interaktif dengan pelanggan yang melakukan akses USSD tersebut.


UMB( USSD Menu Browser ) ini umumnya menggunakan format protocol HTTP  sebagai interface aksesnya baik dari UMB ke Content Provider maupun respon message dari Content Provider ke UMB. Format message yang digunakan umumnya HTTP protocol dengan GET command atau biasa disebut metode HTTP Get saja,ketika akan merequest ke sisi CP dan sebagai response dari sisi CP berupa XML.
HTTP Get dilakukan mengandung arti bahwa sisi Operatorlah yang akan mentrigger service ke arah Content Application
Berikut contoh dari HTTP Get:


Sedangkan contoh dari HTTP response dari Content Application berupa XML:


Beberapa kategori dari type menu yang ada pada system UMB diantaranya:
1. Static Menu
2. Static Content and Menu
3. Dynamic Content and Menu
4. Static Template dengan Dynamic Content
5. Static menu dengan Dynamic Content
Berikut gambaran tampilannya masing-masing agar lebih mudah memahaminya:


Secara umum Arsitektur UMB dapat dilihat seperti pada gambar dibawah:


Keterangan:
Skenario 1: Pelanggan akses shortcode dan mendapatkan notifikasi dalam bentuk USSD pula.
A1: pelanggan akses shotcode USSD sebagai contoh *999# dan request ini kemudian di teruskan ke USSD  gateway
A2:  terjadi translasi dari USSD ke HTTP format
A3: HTTP format tersebut akan diteruskan ke content application oleh Menu Browser
A4: HTTP get diproses oleh Content Application sesuai dengan parameter yang dikirimkan oleh Menu Browser
A5:Translasi dari HTTP ke USSD
A6: Pelanggan akan mendapatkan notifikasi USSD, Kemudian pelanggan dapat melanjutkan mengirimkan USSD request kembali ke arah USSD gateway dan prosesnya kembali sama seperti dari A1-A6

Skenario 1: Pelanggan akses shortcode dan mendapatkan notifikasi dalam bentuk SMS.

B1: Content application akan memproses HTTP parameter yang dikirimkan Menu Browser dan mengirimkan SMS-MT melalui SMSGW
B2: Mekanisme untuk melakukan charging untuk SMS-MT. Jika SMS-MT diset Rp 0, maka pelanggan tidak akan dkenakan biaya . Ada kalanya SMS-MT ini akan gagal pengirimannya baik disebabkan pulsa dari pelanggan yang tidak cukup apabila SMS-MT dikenakan tarif , maupun disebabkan koneksi terputus maka Content Application akan tetap mengrimkan Notifikasi pemberitahuan kepada pelangggan.
B3: SMS-MO dikirimkan ke handset pelanggan.

Reparenting pada 2G/3G

Sering sekali ditemukan perencanaan reparenting maupun rehoming disisi operator telekomunikasi guna mengoptimalkan jaringan yang ada. Secara sederhana Reparenting padat eknologi 2G merupakan pemindahan koneksi MSC yang satu ke MSC yang lain, jadi  beberapa BSC yang misalnya di handle oleh MSC Aakan dpindahkan seluruhnya ke MSC B. Sedangkan  Rehoming perpindahan koneksi BSC, dimana beberapa BTS yang dihandle oleh BSC A akan dipindahkan ke BSC B misalnya. Agar lebih jelas perhatikan gambar di bawah:




Umumnya prosedur dalam melakukan reparenting pada operator punya flow proses tersendiri. Sebagai contoh tim OSS awalnya akan menginformasikan site-site mana saja yang akan dilakukan optimalisasi dengan rencana reparenting tersebut. Kemudian informasi tersebut akan diambil oleh tim BSS biasanya tim RND , lalu menginputkan informasi site yang akan di lakukan plan reparenting kedalam website yang terintegrasi dengan system billing.  Informasi tersebut diidentifikasikan dengan yang namanya CGI (Cell Global Identification). Apa itu CGI , coba lihat ilustrasi sebagai berikut :


CGI berisi 4 kumpulan angka, yang terdiri dari MCC, MNC, LAC dan CI.  Jika kita meninjau negara Indonesia maka semua operator akan memiliki nilai CGI yang diawali dengan MCC= 510 sebagai idenifikasi operator tersebut berada di Indonesia yang sudah distandardkan, sedangkan dalam menentukan tipe operatornya maka dibedakan pada MNCnya, misalkan untuk operator Telkomsel MNCnya =10, XL= 11, Indosat=01. Selanjutnya nilai LAC dan CI sepenuhnya di create oleh masing-masing operator.
Seperti yang dijelaskan dalam melakukan reparenting di butuhkan informasi CGI yang akan berubah. Misalkan akibat perpindahan MSC , CGI akan mengalami perubahan, namun umumnya  yang berubah hanya pada informasi LACnya saja.  Sebagai contoh CGI awal adalah: 510-10-67812-12345 ,akibat rencana reparenting maka CGI nya akan diubah menjadi  CGI baru: 510-10-67811-12345 .Berikut ilustrasi pada table inputan RND


Karena system Web tersebut terintegrasi dengan system billing , maka data tersebut akan diload dalam waktu tertentu agar data CGI di sisi Billing juga terupdate. Lalu pertanyaannya , apa hubungannya informasi CGI ini disisi Billing? . Umumnya CGI ini akan diolah operator dalam menentukan tariff pelanggan. Contoh kasarnya, misalkan pelanggan yang berada pada CGI 1 akan memiliki tariff telepon Rp.X/menit, sedangkan pelanggan yang berada pada CGI2  akan memiliki tariff telepon sebesar Rp Y/menit. Maka penting untuk mengupdate data CGI disisi billing karena berhubung langsung dengan pentarifan pelanggan. Dan database di sisi Billing secara otomatis melakukan update untuk plan reparenting.


Dalam case diatas saya coba ambil contoh CGI reparenting yang benar-benar baru, dalam artian CGI tersebut belum pernah dipakai disisi Billing, dimana CGI baru ini akan mereplace CGI yang lama, sehingga nantinya CGI yang lama tidak terpakai lagi. Ada kalanya kasus dilapangan, CGI plannya berupa  CGI yang pernah ada di system Billing, sehingga diperlukan logic yang mengidentifikasikan apakah CGI itu sudah pernah dipakai atau belum. Sehingga nantinya di dalam database tidak terjadi duplicate CGI yang bisa menyebabkan system Billing memiliki hasil ambiguitas dalam menentukan parameter CGI yang tepat dalam menghitung tariff pelanggan. Hal ini terjadi pada umumnya untuk BTS Mobile yang sering berpindah-pindah tempat bahkan kembali ke tempat asal.
Kembali lagi pada proses , Terlihat bahwa CGI plan telah terupdate walaupun CGI tersebut belum riil ada di lapangan. Selanjutnya tim RND akan request EWO ke tim engineering dalam hal melakukan Eksekusi terhadap CGI plan terebut dan activity repaenting tersebut umumnya dilakukan malam hari agar tidak begitu menggagu pelanggan eksisiting. Dan ketika selesai dieksekusi, maka tim OSS lapangan akan mengupdate CGI baru telah berhasil dilakukan dan database di Web RND akan terupdate dengan otomatis dengan adanya skema reconciliation terhadap kombinasi SiteID + CellName +CI  dan Billing akan terupdate pula dari informasi yang ada pada database Web RND .



Dan skema reparenting pun secara umum telah selesai dilakukan. Have a nice day! :)

Sabtu, 22 Februari 2014

Mengenal Application Gateway

Application gateway banyak digunakan oleh operator-operator ketika akan bekerjasama dengan perushaan-perusahaan penyedia content (Content Provider) dikarenakan dengan system security dari application gateway cukup handle jika menghubungkan system internal sebuah operator dengan system luar yaitu Content Provider itu sendiri. Banyak fitur yang disediakan oleh application gateway dengan tingkat management content yang cukup baik pula. Berikut secara sederhana high level dari arsitektur application gateway.


Misalkan sebuah operator menyediakan beberapa layanan kepada pelanggan seperti : sms banking, quiz, campaign, SMS chat, social media,online shopping. Ketika Pelanggan memilih layanan tesebut umumnya menggunakan SMS, dan disisi operator disebut sebagai SMS MO (Mobile Originating) dan umumnya akan disettting disisi billing SMS MO untuk layanan tersebut=Rp 0, agar pelanggan tidak dikenakan biaya. Peranan SOA diatas adalah app gw akan melakukan request data pelanggan ke a rah SOA apakah pelanggan tersebut eligible atau tidak mendapatkan layanan. Jika eligible request dari pelanggan akan di arahkan ke content provider. Kemudian application gateway akan menginformasikan kepada pelanggan dengan SMS MT( Mobile Terminating) berupa akses telah sukses, atau informasi yang diinginkan oleh pelanggan.

Secara umum fungsi utama dari application gateway diantaranya:
1.  Untuk memanage content
2. Mampu mengahandle pembelian melalui beberapa channel seperti: SMS, USSD, WAP, STK, API, dan MMS
3 .Menggunakan HTTP proxy sebaga aliasing nomer pelanggan dan juga dalam memfilter content
4. Bisa melakukan dirct SMS ke pelanggan melalui network
5. Direct charging ke Billing diameter
6. Memiliki banyak tipe model charging seperti: SMS MO/MT, flexible charging, keyword based)
7. Memiliki GUI yang configurable
8. Menyimpan call detail record, memiliki log data transaksi, dan teredianya database subscriber yang               merequest content tersebut.



To be continue…

Jumat, 21 Februari 2014

GPRS Roaming International (Introduction)


Ketika kita keluar negeri misalnya dari Indonesia pergi ke suatu negara lain, dan Handphone kita masih bisa digunakan untuk koneksi, maka kita bisa dikatakan telah mengalami roaming. Semua layanan baik itu voice ,sms, dan data servis akan dihandle oleh Network Negara tujuan kita, sedangkan network Indonesia tidak bisa beroperasi lagi . Kali ini kita akan membahas sedikit bagaimana fenomena roaming ini bisa terjadi dan saya ambil contoh khusus roaming GPRS. Berikut terdapat dua jenis scenario umum dari GPRS roaming:

1. HGGSN Roaming


Dengan bantuan gambar diatas saya akan coba deskripsikan terjadinya HGGSN roaming. Seorang pelanggan telah mengalami roaming ketika berpindah dari Negara asal (HPLMN) menuju kota tujuan (VPLMN). HPLMN merupakan Home PLMN , berupa jaringan asal kita, sedangkan VPLMN berupa Visit PLMN , berrupa jaringan yang ada pada Negara tujuan. Ketika pelanggan telah berada pada Negara tujuan (VPLMN) maka data pelanggan akan langsung di daftarkan di SGSN HPLMN, kemudian dilakukan proses PDP context ke arah GGSN Negara asalnya (HPLMN) dan peistiwa inilah yang disebut dengan HGGSN roaming. Pada kondisi ini terjadi yang namanya sebuah signaling exchange (men-switch sinyal) melalui interface Gp.
Muncul pertanyaan Apa itu PDP context? Coba perhatikan proses flow dari system GPRS pada gambar dibawah  agar anda lebih memahaminya


PDP context merupakan basic proses yang dilakukan agar pelanggan mampu melakukan akses data. Dalam hal ini pelanggan akan mendapatkan sebuah alamat IP sehingga nantinya MS (hanphone pelanggan) dan GGSN bisa saling interkoneksi. Pada awalnya MS akan memberitahu SGSN tentang permintaan hubungan PDP (PDP Context Request). Pada tahap ini ada dua kemungkinan yang terjadi, apakah request tersebut akan mengirimkan parameter PDP address  yang berisi alamat IP, atau mengirimkan parameter PDP address yang kosong. Hal ini tergantung pada HPLMN, apakah menggunakan system PDP statis atau dinamis. Jika system PDP statis , maka pelanggan hanya akan punya alamat IP yang tetap dijaringan manapun berada, sedangkan PDP dinamis, alamat IP akan selalu baru ketika MS melakukan hubungan ke jaringan. Nah , apabila PDP statis maka akan dikirimkan parameter PDP address yang berisi alamat IP, sedangkan untuk skema PDP dinamis akan dikirimkan parameter PDP address yang  dibiarkan kosong.
Selanjutnya sebagai keamanan dari system GSM akan dilkukan seperti melakukan autentikasi terhadap data pelanggan. Jika hasil autentikasi menyatakan pelanggan tersebut boleh melakukan akses, maka SGSN akan mengirimkan Create PDP context Request ke sisi GGSN. Request ini akan menjadi data PDP baru bagi table GGSN, dan akan dilakukan konfirmasi kembali ke SGSN dengan pesan create PDP Context response. Lalu SGSN akan mengupdate tabelnya teahadap adanya hubungan PDP baru. Selanjutnya SGSN melakukan konfirmasi kepada MS yang mengidentifikasikan bahwa aktivasi telah selesai dilakukan (Acticvate PDP context Accept).

2. VGSSN Roaming


Dengan bantuan gambar diatas saya akan coba deskripsikan terjadinya VGGSN roaming. Seorang pelanggan telah mengalami roaming ketika berpindah dari Negara asal (HPLMN) menuju kota tujuan (VPLMN). Lalu apa bedanya dengan scenario sebelumnya. Jika sebelumnya proses registrasi data pelanggan terjadi pada SGSN VPLMN dan aktivasi PDP context berada pada sisi home network yaitu HGGSN. Kali ini proses PDP context tersebut dilakukan di  sisi visitor network yaitu VGGSN.

Kamis, 13 Februari 2014

Kegiatan RF Planning engineer

Ada beberapa hal yang umumnya dilakukan para engineer dalam merancang alokasi Radio frekuensi dalam artian sederhana adalah merancang penyediaan akses untuk para user yang ingin akses layanan telekomunikasi. Berikut secara umum kegiatan dari RF Planning tersebut

1. Nominal Pan / Site Planning

Dalam melakukan Nominal plan kita dibantu dengan planning tools seperti Atoll, ASSET,Unet, NetAct, dsb. Nominal Plan tersebut merupakan kegiatan merancang coverage suatu BTS dengan menggabungkan konsep link budget dan hasilnya jika kita menggunakan tools akan terlihat seperti pewarnaan peta seperti gambar dibawah:


Perancangan ini umumnya mnucul dalam pembangunan new site maupun perbaikan/optimalisasi coverage berdasarkan laporan complain di daerah berasangkutan. Secara case business, umumnya tim marketing akan memberikan areanya dan tugas seorang engineer adalah membantu dalam pembuatan bordernya. Kemudian seoorang engineer memperhatikan dimensioningnya sebagai contoh apabila di area tersebut memiliki utilitas yang tinggi dan TCH blocking yang besar pula maka di perlukan cell splitting sebagai optimalisasi dalam hal trafik sharing, mengupgrade trx serta solusi lainnya adalah dengan add site collocation.
Setelah perancangan border diatas diajukan kembali ke tim marketing dan disetujui maka tim engineer tersebut mulai melakukan planning site. Dengan istilah nominal plan, para engineer akan memberikan titik-titik site pada peta yang tersedia pada tools yang digunakan. Dasar-dasar penentuan titik-titik site yang dirancang dianataranya menggunakan:

1. Koordinat Longitude (bujur) dan latitude (lintang)
2. Type antenna yang digunakan, sebagai contoh omnidirectional atau three directioanal
3. Spesifikasi antenna berupa tinggi antenna, tilting (kemiringan antenna)
4. Tipe kabel feeder yang digunakan yang bergantung pada karakteristik clutternya seperti dense urban, urban, suburban, dan rural. Sebaiknya gunakan resolusi 5m pada tools dalam merancang tipe feeder untuk daerah dense urban dan urban agar mengahsilkan impleeantasi di lapangan lebih baik.

Setelah perancangan site dilakukan maka lakukan update pada database dan update pula propagasi modelnya dimana harus dilakukan drive test setiap clutter , lalu analisis nilai K yang mendekati lingkungan aslinya . Sampai disini, implementasipun dapat dilakukan dan harus di drive test dan jangan lupa menyetting level signal ditiap level coveragenya. Berikut contoh hasil validasi  coverage dengan hasil tuning propagasi modelnya yang bisa kita sebut pula hasil dari nominal plan:


2. DRM
DRM merupakan singkatan dari Data Review Marketing, dimana pada proses ini akan dilakukan survey dari Marketing terhadap hasil data nominal plan. Dalam hal ini masih dilihat apakah hasil tersebut benar-benar sesuai dengan kenyataan atau tidak, dan untuk itu para engineer harus menyiapkan data-data yang baik dan sesuai sehingga implementasi dapat dilakukan segera.
                 
3.  CDR/CDD/PES
Setelah sitelist hasil nominal plan dan physical antenanya telah ada , maka dilakuakan pengintegrasiannya dalam bentuk CDR,CDD, atau PES. Ketiga istilah ini sebenarnya mengandung arti yang sama , hanya perbedaan penyebutan istilah dari beberapa vendor. Pada vndor ericsson untuk 2G digunakan istilah CDD (Cell Data Design) dan untuk teknologi 3Gnya menggunakan istilah CDR (Cell Data Design Request). Sedangkan vndor Nokia menggunakan istilah PES (Paramater Entry Setting). Integrasi ini akan dilakukan tim RNP dan degenerate oleh Back office(Huawei), INOC(ericsson), GNIC(Nokia). Ada 4 Type integrasi yang dilakukan diantaranya:

1. New site:pembuatan site baru
2. Swap : penggantian perangkat yang berbeda vendor
3. Modernisasi: pembaharuan perangkat
4. Rehoming: Perpindahan BSC(pada 2G) atau perpindahan RNC (pada 3G)
5.Reparenting: Perpindahan MSC

Selain itu ada beberapa parameter yang harus diperhatikan, berikut list-list parameter yang umumnya digunakan:
-        -  Parameter untuk 2G (basis TDMA): baseband hop, synthesized hop, syn ad hoc, dsb.
-        -  Parameter untuk 3G (basis WCDMA):  scrambling code, CI, bcfId, RNC, LAC,RAC, neighbor plan, dsb.
Khusus untuk case site swap, modernisasi,rehoming dan reparenting, umumnya parameter-parameternya akan dimapping sesuai dengan perangkat baru dengan value yang sama sehingga para engineer seharusnya mengetahui dan hafal akan parameter-parameter yang digunakan berbagai perangkat vendor.